Rasa Percaya Itu Mahal

Beberapa hari ini aku baru menyadari, rasa percaya itu mahal sekali harganya. Sekali rusak, kita sulit sekali memperbaikinya tanpa ada setitik noda kecurigaan.

Kenapa aku baru sadar sekarang?

Semua ini bermula dengan kisah Caramel yang dipinjam. Sekitar dua bulan yang lalu, Chocolatte melahirkan 4 ekor anak anjing. Machiatto, Mochaccino, Caramelo dan Milky. Sejak kelahiran mereka, teman-teman sudah banyak yang meminta. Anak-anak kost dan aku tidak keberatan dengan keinginan mereka. Tetapi kita mau mereka menunggu minimal dua bulan. *Berdasar riset dari berbagai sumber dengan berbagai bahasa di internet. Halah.*

Kita sayang banget sama puppies yang masih imut-imut. Kita memberi makan, memandikan, membersihkan kotoran, mengajar disiplin dan menjemur. Mirip deh sama tugas mami-mami. Kadang kita sudah capek kerja, masih harus memastikan kesejahteraan mereka. Kita agak berharap ada dog-sitter. Kidding. Tetapi kita tetap senang, soalnya mereka masih imut-imut.

Tidak hanya kita yang berbahagia dengan kehadiran puppies, anak-anak tetangga juga suka keberadaan mereka. Beberapa kali mereka main ke kost-an kita. Mereka bahkan mau minta. Tentu kita tidak kasih. Istilah Facebook-nya, sudah di-tag-in. Sayangnya anak-anak ini kepingin banget. Sampai mereka pernah membawa pulang Caramelo tanpa izin dari kita. Dan berakhir dengan mereka mencuri Milky selama dua hari.

Luar biasanya, orang tua mereka pura-pura tidak mengetahui keberadaan Milky. Sampai akhirnya, ada asisten rumah tangga yang merasa bersalah dan mengaku keberadaan si Putih. Lalu dia meminta temanku untuk mengambil kembali.

Selama 2 hari itu, aku memang mencurigai anak-anak itu. Aku sempat marah sama mereka. Tetapi aku tidak memiliki bukti. Aku berusaha berpikir baik mengenai mereka. Apalagi kita tetanggaan sudah lama. Sayangnya, kenyataan membuktikan sebaliknya. Aku sedih melihat rasa percaya itu diruntuhkan.

Siapa yang tidak kepikiran, "kalau kamu bisa mencuri seekor anak anjing, bisa saja kamu mencuri barang lain yang kita miliki. Hanya karena kamu menginginkannya."

Sejak itu, kita tidak lagi merespon keinginan anak-anak itu untuk bermain ke kostan

Aku juga belajar, jangan sia-siakan kepercayaan orang. Sekali runtuh, kita akan sulit sekali membangunnya kembali.