Hari Itu

Sepuluh tahun telah berlalu. Masih terpatri di ingatanku, suasana di pagi hari itu. Mungkin karena itulah satu-satunya kenangan tidak terduga sebelum dia pergi.

Pagi hari itu, cuaca cukup cerah. Lembutnya elusan angin di pipiku, membuatku ingin memeluknya. Udara segar memanjakan hidungku. Sekolah masih sepi.  Aku memelankan langkah kakiku sambil menelusuri koridor menuju ruang kelasku di lantai 4. Ingin menikmati suasana seperti itu, lebih lama. Aku merasakan romantisme.

"Kenapa kamu jalannya pelan-pelan? Masih ngantuk ya? Ayo buruan!" perintah suara yang muncul di belakangku.
Tiba-tiba aku merasa suasana romantisme itu hancur berkeping-keping. 'Siapa si makhluk kurang ajar yang merusaknya?'
Ternyata makhluk itu berjalan dengan cepat, meninggalkan aku dalam kesendirian.
Dari belakangnya, aku mengenal guru bahasa Inggrisku. Dia keturunan India dan umurnya sudah 50-an. Guru yang paling suka memanggil nomor murid-murid di kelas untuk menjawab pertanyaan. Aku bersyukur kalau aku jarang dipanggil.

Guruku adalah vegetarian. Aku tidak pernah tahu alasannya kenapa dia memilih tidak makan daging. Mungkin karena kepercayaan Hindunya. Badannya besar layaknya orang India lainnya. Dia juga gemuk dan memiliki perut buncit. Aku mengingat dia sebagai orang yang menjaga kesehatan. Dia pernah cerita di kelas, untuk menghindari konsumsi air yang banyak di malam hari. Secara logis, aku mengakui, kita bisa ngompol. Atau kita terbangun di tengah malam hanya untuk pipis.

Pada pertengahan caturwulan ke dua, aku mendapatkan kabar buruk. Guruku meninggal dunia. Kerusakan hati dan tidak bisa ditolong lagi. Sesuatu yang tak kuduga, dari orang yang sangat menjaga kesehatan.

Aku tidak merindukannya. Tidak juga menyukainya. Namanya pun aku tidak ingat. Namun, ketika aku merasakan angin yang lembut. Udara segar. Pagi hari yang cerah dan sunyi. Aku teringat dia. Aku teringat kalau aku juga tidak pernah tahu kapan dipanggil ke dunia kekal. 

Pemenangnya: Ipod Nano

Aku tak ada timbangan. Barang sakral bagi wanita itu, tak kukoleksi. Caraku mengukur berat badan sangat mudah. Jika aku tidak lagi bisa mengenakan pakaian '47' (kg), tubuhku sudah tidak proporsional. Yang itu berarti baju kubeli 4 tahun yang lalu. Sejak 2009, dengan bangga kunyatakan, aku tambah makmur. Huhuy. Aku cocok untuk mempromosikan slogan, "Ikut Tuhan, Anda tidak perlu takut kekurangan."

Diberkati dengan kelimpahan, hobi kulinerku tersalurkan. Aku makan. Makan. Dan makan. Lalu aku kehilangan kendali. Berat badanku naik ke '55' kg. Aku jadi gampang capek, sakit dan malas bergerak. Tidak hanya itu, aku tambah malas jaga makan. Aku tidak bisa kehilangan Coca Cola, mie instan, Chitato, kue tart. Hidupku tiada berarti tanpa mereka. Apa yang bisa menggantikan mereka? Apa?

Di tengah raungan serigala dan derai air mata si Topi Merah, Ipod Nano datang.
"Aku akan memberikan Ipod Nano bekasku, jika kamu berhasil kurus." janji temanku.

Tiba-tiba sebuah gambaran pertandingan tinju dimulai di otakku.

Ronde 1: Ipod Nano Vs. Coca Cola
Ronde 2: Ipod Nano Vs. Chitato
Ronde 3: Ipod Nano Vs. Mie instan
Ronde 4: Ipod Nano Vs. Kue Tart

"Pemirsa, pemenangnya adalah Ipod Nano!"

Tersadar dari khayalan. Aku menatap temanku.
"Aku pasti kurus." kataku penuh dengan keyakinan.

Peggi dan Doa Ulang Tahunnya

3:34 AM by -Julie- 0 comments
Di sebuah apartemen lantai 6 di Jakarta, tinggallah keluarga Wang. Ada Papa Andri, Mama Martha, dan Peggi. Papa Andri adalah seorang manager IT. Mama Martha adalah wiraswasta yang jual baju di internet. Mereka memiliki seorang putri bernama Peggi.

Hari ini Peggi sangat senang. Dia sudah bangun jam 6 pagi. Karena hari ini adalah hari ulang tahun Peggi yang ke 5. Dan dia akan merayakan dengan teman-teman se-apartemennya. Elisa, Darren dan Mega. Tiga hari yang lalu, dengan bantuan Mama Martha, Peggi menuliskan kartu undangan ke mereka bertiga. Kartunya kecil, berwarna pink  dan ada gambar kelinci di dalamnya.
Peggi menulisnya seperti ini:

Hi Elisa,
Datang ke ulang tahun Peggi Sabtu jam 12 ya.

Dari,
Peggi

Dan Peggi menuliskan hal yang sama di kartu undangan ke Darren dan Mega. Ketiga temannya berjanji untuk datang.

"Peggi ingin kado apa?" tanya Papa Andri sebelum berangkat ke kantor pagi-pagi.
Peggi menatap papanya. "Aku ingin Papa ada saat tiup lilin."
Mata papanya tampak sedih. Peggi tahu Papa Andri suka dipanggil bos untuk kerja. Peggi tidak suka bos Papa Andri. Dia suka meminta papanya ke kantor, padahal Peggi ingin main dengan papa.
Papa Andri mengelus kepala Peggi.
"Papa usahakan ya sayang." Lalu Papa Andri berangkat ke kantor.
Peggi berharap papanya akan merayakan ulang tahun bersama dia.

***

Mega, Darren dan Elisa menepati janji mereka. Mereka datang bersama mama mereka dan membawa kado. Ada sekotak crayon. Ada boneka beruang. Ada sayap peri berwarna pink. Peggi senang karena banyak yang datang. Tetapi berkali-kali dia menatap ke arah pintu. Berharap Papa Andri sudah pulang. Sayang, Papa Andri belum pulang. Wajah Peggi menjadi murung.

Mama Martha yang mendengar percakapan Peggi dan Papa Andri ikut sedih.
Mama memeluk Peggi dan berbisik di telinga Peggi. "Nanti papa pulang, kita tiup lilin lagi ya."
Peggi mengangguk.
"Jadi sekarang Peggi main sama Mega, Elisa dan Darren dulu. Masa Peggi malahan sedih waktu ulang tahun."
Peggi mengangguk mengerti. Dia menarik kedua pipinya untuk tersenyum lebar. Lalu dia bermain bersama teman-temannya sampai mereka pamit.

Papa Andri ternyata pulang saat makan malam. Dan tidak hanya itu, dia membawa kue ulang tahun dan kado Teddy Bear.
Sebelum meniupkan lilin, Mama Martha seperti biasa bertanya keinginan Peggi tahun ini. Peggi menatap Papa Andri dan Mama Martha erat-erat.
"Aku berdoa pada Tuhan supaya bos papa tidak meminta papa kerja terus. Karena Peggi dan mama mau bermain bersama papa."

Tuhan yang mendengar keinginan Peggi menjawab doa Peggi. Sebulan kemudian, Papa Andri diberkati untuk membuka usaha softwarenya sendiri. Dan Papa Andri bisa sering bermain dengan Peggi dan Mama Martha.