Jarum-jarum jam melangkah. Detik demi detik. Menit demi menit. Jam demi jam.
Sang Waktu menunggu tidak sabar berkencan dengan sang Mentari lagi.
"Tidakkah kamu mau berhenti sejenak?," pintaku. Dia tidak menghiraukanku. "Berhentilah!," seruku. Tidak ada jawaban dari dia.
Aku menanti sebuah jawaban. Menanti dan menanti. Sang Waktu yang bersimpati pada kegigihanku, menoleh. "Aku tidak bisa berhenti," jawabnya.
"Kenapa?," tanyaku.
Dia menatapku erat-erat. "Di saat aku tidak lagi merindukan sang Mentari berhenti, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Selamanya."
Sang Waktu menunggu tidak sabar berkencan dengan sang Mentari lagi.
"Tidakkah kamu mau berhenti sejenak?," pintaku. Dia tidak menghiraukanku. "Berhentilah!," seruku. Tidak ada jawaban dari dia.
Aku menanti sebuah jawaban. Menanti dan menanti. Sang Waktu yang bersimpati pada kegigihanku, menoleh. "Aku tidak bisa berhenti," jawabnya.
"Kenapa?," tanyaku.
Dia menatapku erat-erat. "Di saat aku tidak lagi merindukan sang Mentari berhenti, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Selamanya."
.jpg)