Body Combat, Yeah!

Aku tidak suka olahraga. Tetapi aku harus menjaga stamina dan melangsingkan tubuh. Dengan tekad setengah matang, aku pun mendaftar di Fitness First.

Di kelas apapun yang kuambil, selalu ada istilah-istilah dan gerakan-gerakan baru yang asing di panca inderakaku. Permasalahanku pun dimulai; aku bukanlah orang yang gampang mengingat gerakan dan istilah-istilah baru dengan cepat! Apalagi baru 2 kali ikut kelas. Minimal 100x lah. Ini salah satu contoh dari permasalahanku, di kelas Body Combat.


Ruangan fitness untuk Body Combat berwarna biru tua. Di tengah depan ruangan persegi panjang itu ada sebuah panggung kecil berwarna merah. Sisi kanannya ruangan itu, adalah kaca panjang yang lebar sekali. Biasa digunakan untuk melirik gerakan dan posisi instruktur dan membandingkannya dengan punya kita. Di sisi kiri adalah tempat penyimpanan peralatan olahraga seperti matras, barbel dan lain-lain.


Hari itu, aku mengambil posisi paling depan dan pojok kiri. Kaca ada jauh di seberang kananku, ditutupi orang-orang yang juga diet seperti aku. Sebagai pemula, wajar donk aku melihat instruktornya terus menerus. Bukan karena gantengnya, karena aku sudah lupa wajahnya, tapi karena aku ga ngerti istilah-istilah yang dia pakai dan gerakan-gerakannya yang cepat. Segala sesuatu berjalan cukup baik, selama aku bisa melihat gerakan-gerakannya.

Aku sedang asyik-asyiknya mengikuti gerakan instruktur, tiba-tiba dia meminta kita semua menghadap ke kiri. O_o Masalahku muncul. Aku tidak menghafal gerakan. Aku menoleh ke arah belakang, untuk melihat instrukturku. Bagusnya, Instrukturku mengerti, kalau aku masih perlu diberi contekan. Hanya saja, kalau menoleh ke belakang terus, leherku terasa sakit! Gimana kalau terkilir?? Aku pun menoleh ke arah tetangga belakangku. (Dia berada di sisi kiri, ketika aku menghadap samping). Dari keluwesan gerakannya, dia kayaknya si lebih jago dari aku. Tetapi sayang sekali, aku tetap salah menghadap dan salah gerakan, sampai ditoel tetanggaku untuk menghadap ke depan lagi. Malu. Hihi.. Yang penting, aku sudah mencoba, meskipun salah. :D


Pelajaran hari ini: Kalau ikut kelas, pintar-pintar cari posisi lain ah. Yang enak lihat gerakan instrukturnya.
Cia Yo untuk kelas berikutnya! Yeah!      

Puyer Cap Bangau

1:58 AM by -Julie- 1 comments
Kondisi cuaca di Jakarta semakin lama semakin memburuk. Beberapa jam yang lalu, matahari menyengat kulitku yang mulus. Beberapa jam kemudian, kulitku dimandikan dengan air kotor. Di saat-saat seperti ini, kondisi kesehatan menurun dan penyakit menyelinap masuk ke dalam tubuhku.

Kepala sakit, mata sakit, kaki terasa dingin dan perut kelaparan.
Semua kondisi gak enak itu, membuatku tidak bisa tidur. Dengan berat hati, aku pun melangkahkan kaki ke depan lemari es, dan mengambil sebutir telur. Aku lalu berjalan ke arah Rice Cooker dan menemukan nasi yang masih hangat. Selesai masak dan makan, satu dari empat kondisi di atas sudah terselamatkan.

Ke-tiga kondisi lainnya, aku tahu cara penyembuhannya. "Puyer Cap Bangau" adalah jawabannya! Puyer ini adalah puyer penurun demam turun temurun dari keluarga teman baikku, Erika. Sekarang, aku akan menerangkan cara mengkonsumsinya.
1. Jangan tuangkan langsung ke mulutmu. Dijamin, kamu pasti tersendak dan terbatuk-batuk. (Aku pernah mencobanya, dan rasanya menyakitkan)
2. Jangan sebarkan bubuk di sekitar kamarmu, kecuali untuk mau mengotori lantai.
3. Jangan taburkan ke badanmu. Puyer bukan bedak, tau!
4. Jangan dimasukkan ke mie instant yang sedang kamu masak.
5. Cukup tumpahkan bubuk itu di gelas berisi air putih. Aduk dengan sendok; bukan sapu, hingga merata.
6. Hiruplah, eh, minumlah bubuk tersebut.
Peringatan: Jika terasa pahit, silahkan cari air minum secepat mungkin. Apabila sakit berlanjut, sebaiknya hubungi dokter terdekat.

By the way, dulu aku minum puyer ini, keesokan harinya sembuh loh :)
Ini aku kirimkan gambar Puyer Cap Bangau.

Puyer Cap Bangau

Gak Ada Sinyal??

1:30 AM by -Julie- 0 comments
Sebulan tanpa sinyal telepon?

Aku tidak keberatan kok.
Aku tidak keberatan...
Aku tidak keberatan.....
Ugh, aku ngaku deh. Aku keberatan banget!
SMS, BBM, Facebook, Twitter, Email, SMS dan Sambungan Telepon tidak bisa kuterima... Oh~ Tidak!!!
Aku serasa diseret kembali ke era Dinosaurus. Aku hanya beruntung, tidak perlu berlari tunggang langgang menyelamatkan diri dari T-Rex.

Aku sudah sering berkunjung ke rumah Omku. Beberapa kali aku nginap di sana. Aku dari dulu sudah tahu kalau signal di sana itu super jelek. "SOS" mengisi status signal di Blackberry-ku hampir 4/5 jam dalam hari. 1/5 jam lainnya adalah hasil dari aku berkeliling cari signal di rumah. Dan menyebalkannya lagi, jika aku menerima info terbaru di siang hari, itu bisa saja info kemarin malam. Kalau aku saja terimanya ngaco begitu, berarti apa yang kukirim juga sampainya ngaco juga.

Aku memang bukan manusia biasa.. Eh, bukan itu maksudku. Aku bukan orang yang up-to-date soal info gosip terbaru, malah cenderung terbelakang soal gosip. Tetapi aku juga membutuhkan hubungan dengan dunia luar. Apalagi di saat aku lagi sakit dan tidak bisa kemana-mana. Aku bukan Putri Aurora yang sakit dan bisa tertidur seribu tahun, hingga sinyal di Blackberry-ku menguat. Cukup 2 hari seminggu tanpa signal, aku sudah nelangsa. ><

Aku punya 1 permintaan saat ini. Saat dimana aku tinggal di rumah Om-ku.
Kirimkanlah petugas operator yang gagah berani, yang memiliki visi untuk menguatkan seluruh sinyal operator telepon di seluruh Indonesia.
Please.. please.. please...

Waktu dan Mentari

Jarum-jarum jam melangkah. Detik demi detik. Menit demi menit. Jam demi jam. 
Sang Waktu menunggu tidak sabar berkencan dengan sang Mentari lagi.
"Tidakkah kamu mau berhenti sejenak?," pintaku. Dia tidak menghiraukanku. "Berhentilah!," seruku. Tidak ada jawaban dari dia.
Aku menanti sebuah jawaban. Menanti dan menanti. Sang Waktu yang bersimpati pada kegigihanku, menoleh. "Aku tidak bisa berhenti," jawabnya.
"Kenapa?," tanyaku. 
Dia menatapku erat-erat. "Di saat aku tidak lagi merindukan sang Mentari berhenti, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Selamanya."  

Guling and Me

9:28 PM by -Julie- 0 comments
Mataku nyaris terpejam, ketika sayup-sayup terdengar suara bell yang semakin lama semakin kencang. Kupeluk gulingku semakin erat. Aku tidak mau membuka pintu. Aku tidak ingin beranjak dari tempat tidur. Aku tidak ingin berpisah dengan gulingku.

"Oh gulingku," bujukku, "mari kita terbang ke alam mimpi."
Aku berharap, kamu tetap bersamaku, dalam keadaan mimpi ataupun sadar.

Pagi-pagi di Pasar Benhil

9:24 PM by -Julie- 0 comments
Peluh membanjiri wajahku, taktakala aku menanti teman-temanku di pasar Benhil. 
Mataku melirik ke kiri dan ke kanan, menanti.

Tiba-tiba sebuah stand, di-spotlight. Mataku melihat ke stand itu. Stand Teh Poci. Tanpa berpikir, disetir oleh hausnya tenggorokan akan teh. Kakipun berjalan ke arah stand itu.
Sesampai di stand, aku mencari penjualnya. "Apakah dia bersembunyi?". Aku melihat ke belakang stand, atap stand, bawah stand. Nihil.

Tidak berapa lama kemudian, entah dari mana, mungkin dari alam bawah sadarku, penjualnya muncul. Tanpa bertanya, tanganya meraih gelas plastik kosong yang sepertinya baru. Tanpa menawarkan pilihan, dia memberikan segelas teh poci. Tanpa bisa konsentrasi, aku pasrah. "Yang penting tidak beracun."

Setelah menenggak teh Poci, tenggorokanku puas, perutku kenyang dan tenaga kembali. Mari cari bahan spaghetti di pasar Benhil. Kamu pasti bertanya-tanya, "teman-teman yang kamu tunggu dimana?". Dari Sudirman, mereka keblablasan ke Pejompongan, jadi lagi putar balik :)