Pagi itu jalanan Jakarta senggang. Kaum manusia seakan belum terbangun dari semarak perayaan tahun baru. Mereka masih menikmati libur panjang - dari tahun 2015 ke tahun 2016. Tetapi di tengah kesenggangan itu, seorang manusia yang tua menginspirasi manusia yang lebih muda. Inilah inspirasi 20 menit di pagi hari itu.
Sejak akhir tahun manusia yang lebih muda sedang mengalami
masa yang berat. Membaca buku dan
bekerja cukup membuat pikirannya yang kalut teralihkan. Sosialisasi bukanlah
hal yang mudah saat itu. Bibir memilih terkatup rapat. Kalau-kalau sang lidah
menyayat tajam orang lain - lagi.
Manusia yang tua tidak mengetahui manusia seperti apa yang
dijemputnya. Dia seorang supir. Dia
menerima panggilan. Menjemput. Beramah tamah. Lalu mengantarkan manusia
tersebut ke tempat tujuan. Begitulah
porsi seorang supir. Dia tidak pernah
tahu, percakapannya mengubah hari seorang manusia.
Saat manusia yang lebih muda duduk di mobil, dia hanya
menyapa dan menyatakan tempat tujuan. Manusia yang tua memulai percakapan
dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Apakah pekerjaanmu? IT?”. Manusia yang
lebih muda menjawab sekedarnya,”teknologi, pak”. Tetapi pertanyaan-pertanyaan
yang lebih dalam seputar pekerjaan membuat manusia yang lebih muda tertegun. Tidak pernah dia temui seorang
supir yang paham dengan dunia teknologi.
“Bapak bekerja dimana?” tanya manusia yang lebih muda. Dia
penasaran dengan wawasan manusia yang tua. Manusia yang lebih muda ini
berpikir, kali-kali manusia yang lebih tua ini hanya kerja sampingan sebagai
seorang supir. “Saya hanya senang membaca koran,” ujar manusia yang tua itu.
“Saya dari dulu senang membaca. Dan saya selalu berkata ke anak saya untuk
membaca apa saja. Komik, novel, dan sebagainya.” Dia menyebut beberapa buku
bacaannya sejak masih kecil. Judul-judulnya bahkan tak pernah didengar manusia
yang lebih muda itu. Lalu dia menyebut
nama Pramoedya Ananta Toer yang tersohor itu. Dia bisa menceritakan cara
penulisan detil informasi yang tertata indah di novel pak Pramoedya. Mereka
menyayangkan rendahnya niat membaca di Indonesia.
Manusia yang tua juga menceritakan kehidupan di luar negeri,
tempat dia pernah merantau. Dia melihat kaum muda yang suka membaca. Dia
menyadari kegiatan membaca berpengaruh besar pada suatu bangsa. Makanya dia
masih membaca hingga kini. Bahkan saat manusia yang lebih muda turun dari
mobil, manusia yang tua mengingatkan dia untuk membaca.
Pagi itu, manusia yang lebih muda merasakan secercah harapan
timbul di hatinya. Ternyata buku-buku masih banyak menginspirasi orang-orang di
luar sana. 20 menit itu sungguh membawa perubahan.
Catatan: Bapak Harri bisa berbahasa Inggris dan
Mandarin. Bukan hanya sekedar menanyakan
kabar. Tetapi berbincang-bincang dengan menggunakan kedua bahasa tersebut.
.jpg)
Post a Comment