Peluh membanjiri wajahku, taktakala aku menanti teman-temanku di pasar Benhil.
Mataku melirik ke kiri dan ke kanan, menanti.
Tiba-tiba sebuah stand, di-spotlight. Mataku melihat ke stand itu. Stand Teh Poci. Tanpa berpikir, disetir oleh hausnya tenggorokan akan teh. Kakipun berjalan ke arah stand itu.
Sesampai di stand, aku mencari penjualnya. "Apakah dia bersembunyi?". Aku melihat ke belakang stand, atap stand, bawah stand. Nihil.
Tidak berapa lama kemudian, entah dari mana, mungkin dari alam bawah sadarku, penjualnya muncul. Tanpa bertanya, tanganya meraih gelas plastik kosong yang sepertinya baru. Tanpa menawarkan pilihan, dia memberikan segelas teh poci. Tanpa bisa konsentrasi, aku pasrah. "Yang penting tidak beracun."
Setelah menenggak teh Poci, tenggorokanku puas, perutku kenyang dan tenaga kembali. Mari cari bahan spaghetti di pasar Benhil. Kamu pasti bertanya-tanya, "teman-teman yang kamu tunggu dimana?". Dari Sudirman, mereka keblablasan ke Pejompongan, jadi lagi putar balik :)
Mataku melirik ke kiri dan ke kanan, menanti.
Tiba-tiba sebuah stand, di-spotlight. Mataku melihat ke stand itu. Stand Teh Poci. Tanpa berpikir, disetir oleh hausnya tenggorokan akan teh. Kakipun berjalan ke arah stand itu.
Sesampai di stand, aku mencari penjualnya. "Apakah dia bersembunyi?". Aku melihat ke belakang stand, atap stand, bawah stand. Nihil.
Tidak berapa lama kemudian, entah dari mana, mungkin dari alam bawah sadarku, penjualnya muncul. Tanpa bertanya, tanganya meraih gelas plastik kosong yang sepertinya baru. Tanpa menawarkan pilihan, dia memberikan segelas teh poci. Tanpa bisa konsentrasi, aku pasrah. "Yang penting tidak beracun."
Setelah menenggak teh Poci, tenggorokanku puas, perutku kenyang dan tenaga kembali. Mari cari bahan spaghetti di pasar Benhil. Kamu pasti bertanya-tanya, "teman-teman yang kamu tunggu dimana?". Dari Sudirman, mereka keblablasan ke Pejompongan, jadi lagi putar balik :)
.jpg)
Post a Comment