Pemenangnya: Ipod Nano

Aku tak ada timbangan. Barang sakral bagi wanita itu, tak kukoleksi. Caraku mengukur berat badan sangat mudah. Jika aku tidak lagi bisa mengenakan pakaian '47' (kg), tubuhku sudah tidak proporsional. Yang itu berarti baju kubeli 4 tahun yang lalu. Sejak 2009, dengan bangga kunyatakan, aku tambah makmur. Huhuy. Aku cocok untuk mempromosikan slogan, "Ikut Tuhan, Anda tidak perlu takut kekurangan."

Diberkati dengan kelimpahan, hobi kulinerku tersalurkan. Aku makan. Makan. Dan makan. Lalu aku kehilangan kendali. Berat badanku naik ke '55' kg. Aku jadi gampang capek, sakit dan malas bergerak. Tidak hanya itu, aku tambah malas jaga makan. Aku tidak bisa kehilangan Coca Cola, mie instan, Chitato, kue tart. Hidupku tiada berarti tanpa mereka. Apa yang bisa menggantikan mereka? Apa?

Di tengah raungan serigala dan derai air mata si Topi Merah, Ipod Nano datang.
"Aku akan memberikan Ipod Nano bekasku, jika kamu berhasil kurus." janji temanku.

Tiba-tiba sebuah gambaran pertandingan tinju dimulai di otakku.

Ronde 1: Ipod Nano Vs. Coca Cola
Ronde 2: Ipod Nano Vs. Chitato
Ronde 3: Ipod Nano Vs. Mie instan
Ronde 4: Ipod Nano Vs. Kue Tart

"Pemirsa, pemenangnya adalah Ipod Nano!"

Tersadar dari khayalan. Aku menatap temanku.
"Aku pasti kurus." kataku penuh dengan keyakinan.

0 Response to "Pemenangnya: Ipod Nano"

Post a Comment